Menu Close

Diet untuk Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2

Diet untuk Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2

Oleh : Dian Wijayanti, A.MG, RD

Nutrisionis di RSUD Sleman

Diabetes Melitus (DM) tipe 2, atau Non-Insulin-Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM), menyumbang sebagian besar kasusdiabetes mellitus di seluruh dunia. DM tipe 2 adalah penyebab kematian keempat atau kelimadi sebagian besar negara maju dan berkembang.

Dalam beberapa dekade terakhir, peningkatan prevalensi dan kejadian DM tipe 2 telah banyak terjadidi dunia, terutama di negara berkembang. Diperkirakan mayoritaskasus DM tipe 2 di masa depan akan terjadi padanegara-negara berkembang.

DM tipe 2 dikaitkan dengan kematian yang disebabkan oleh komplikasi penyakit. Sebagian besar  disebabkanpenyakit kardiovaskular, penyakit ginjal, dan infeksi. Tingkat risikokematian orang dengandiabetes 1,5-2,5 kali lebih tinggi, dengan tingkat pengurangan harapan hiduprata-rata sekitar 10 tahun.

Faktor risiko DM tipe 2 ada yang tidak dapat diubahdan ada yang dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat diubah, yaitu ras / etnis, faktor genetik, usia dan jenis kelamin. Sedangkan faktor risiko DM yang dapat dimodifikasiadalah obesitas/ kegemukan, kurangnya aktivitas fisik, konsumsi makanan tinggi lemak jenuh, konsumsi makanan tinggi karbohidrat, kurang konsumsi serat makanan, asupan zat gizi mikro (vitamin E, magnesium, dan kromium), dan ASI eksklusif.

Berikut ini akan dibahas satu per satu faktor risiko DM tipe 2 yang dapat dimodifikasi.

  • Kegemukan/ Obesitas

Obesitas sering terjadi bersamaan dengan diabetes tipe 2, dandalam banyak penelitian, obesitas telah terbukti menjadi prediktor kuat perkembangan DM tipe 2.Obesitas sudahmeningkat pesat di banyak populasi dalam beberapa tahun terakhir, karena interaksi antara faktor genetik danfaktor lingkungan.

  • Kurangnya aktivitas fisik

Sejumlah penelitian telah menunjukkan pentingnyaaktivitas fisik dalam pengembangan DM tipe 2. Aktivitas fisik yang dianjurkan adalah 5 hari per minggu. Sebuah studi menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat meningkatkan sensitivitas insulin pada orang dewasa yang resistan terhadap insulin.

  • Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh

Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dapat menyebabkan penurunan toleransi glukosa, menurunnya pengikatan insulin dengan reseptornya, danmengganggu transportasi glukosa. Sebaliknya, asam lemak omega-3 dapat memperbaiki resistensiinsulinyang disebabkan oleh konsumsi makanan tinggi lemak jenuh.

Beberapastudi epidemiologi menunjukkan adanya hubungan terbalik antaraasupan ikan dan risiko gangguan toleransi glukosa. Semakin banyak konsumsi ikan, maka risiko gangguan toleransi glukosa semakin rendah.

  • Konsumsi makanan tinggi karbohidrat.

Asupan karbohidrat yang tinggiakan meningkatkan pengeluaran insulindalam mempertahankan keseimbangan glukosa.Diet tinggi karbohidrat mengakibatkan pengeluaran insulin yang tinggi, yang bisa mempercepat penurunan fungsi insulin dan mengarah ke gejala DM tipe 2.

  • Kurang konsumsi serat makanan.

Serat makanan adalahsalah satu faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah setelah makandan respons insulin. Serat makanan berkaitan dengan indeks glikemik (IG). Indeks Glikemik (IG) adalah angka yang menunjukkan potensi peningkatan gula darah dari karbohidrat yang tersedia pada suatu pangan. Atau secara sederhana dapat dikatakan sebagai tingkatan atau rangking pangan menurut efeknya terhadap kadar glukosa darah.

Efek dari serat makanandalam pencegahan dan manajemenberbagai penyakit, termasuk diabetes tipe 2, telah banyak terbukti. Asupan serat makanan yang relatif rendah secara signifikanmeningkatkan risiko DM tipe 2. Penelitian menunjukkan ada hubungan terbalik antaraasupan serat dan kadar insulin darah, yang berarti serat meningkatkan sensitivitas insulin.

  • Vitamin E

Studi kohort yang dilakukan di Finlandia memeriksahubungan antara kadar vitamin E dalam darah dan risiko DM tipe 2. Studi ini melaporkan bahwa rendahnya tingkat plasma vitamin E dikaitkan denganpeningkatan risiko 3,9 kali lipat terserang penyakit DM tipe 2.

Sebuah penelitian kohort juga melaporkan bahwa subjek dengan kadar vitamin E serum yang tinggi memiliki risiko diabetes 39% lebih rendahdibandingkan dengan mereka yang kadar vitamin E serumnya rendah.

  • Magnesium

Tiga penelitian kohort besar Amerika telah melaporkanhubungan negatif yang kuat antara asupan magnesiumdan risiko DM tipe 2. Semakin tinggi asupan magnesium, semakin rendah risiko terkena penyakit DM tipe 2.

  • Kromium

Penelitian hubungan antara kromium dan metabolisme glukosamelaporkan bahwa subyekdengan dengan gangguan toleransi glukosa ringan menunjukkan peningkatan toleransi glukosa dan kadar insulin darah yang lebih rendah setelahmenerima suplementasi kromium.

Studi menunjukkan bahwa ketika asupan kromium rendah,beberapa orang mengalami gangguan toleransi glukosa. Kromium dapat meningkatkan sensitivitas jaringan terhadap insulin (membantu mengembalikankepekaan insulin).

Pengamatan juga dilakukan terhadap orang dewasa yang sudah menyandang DM tipe 2. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan kontrol glikemik dengansuplemen kromium.

  • ASI eksklusif.

Prevalensi diabetes 50% lebih rendah pada bayi yang disusui secara eksklusif pada 2 bulan pertama kehidupannya.

Modifikasi gaya hidup dan pengurangan risiko

Penurunan berat badan yang dicapai dengan peningkatanaktivitas fisik dan perubahan pola makan, termasuk pengurangan asupan lemak total dan lemak jenuh, dan peningkatan asupan serat makanan bisamengurangi kejadian DM tipe 2. Risiko terkena DM tipe 2 dapat dikurangi dengan modifikasi gaya hidup pada populasi yang berisiko tinggi untukpenyakit DM tipe 2.

Faktor ekonomi (biaya), sosial dan personal, menjadi alasan pentingnya melakukan pencegahan penyakit DM tipe 2.Harapan terbesar untuk benar-benar mencegah DM tipe 2 tidak terletak pada pengidentifikasian penderita gangguan toleransi glukosa, tetapi dalam penerapkan modifikasi gaya hidup.

Dalam beberapa tahun terakhir, ada banyak bukti baru yang menunjukkan sifat DM tipe 2 yang berpotensi dapat dicegah, terutama dengan modifikasi gaya hidupseperti kontrol berat badan dan olahraga. Dengan pertimbangan besarnya dampak kesehatan dari penyakit DM tipe 2, maka pencegahan primer harus menjadi prioritas utama.

Banyak negara berkembang yang melaporkan timbulnya DM tipe2 pada usia yang semakin muda. Tren iniberarti tambahan beban yang besar bagi individu dan masyarakat. Pencegahan DM tipe 2, diberikan prioritassebagai berikut:

  1. Promosi dan evaluasi gaya hidup sehat, programyang fokus pada aspek-aspek berikut:
    • Pencegahan kelebihan berat badan / obesitas;
    • Konsumsi makanan padat gizi, yang rendah lemak jenuh,dan bebas guladan tinggi serat makanan;
    • Gaya hidup aktif, yang meliputi aktivitas fisik harian, minimal 1 jam / hari, dan olahraga yang diperlukan untuk mengurangi risiko berkembangnya DM tipe 2;
    • Tidak mengkonsumsi alkohol dan berhentimerokok;
    • Mengidentifikasi subyek yang berisiko tinggi terhadap hipertensi,diabetes dan penyakit jantung;
    • Penapisan untuk diabetes pada kehamilan;
    • Pemenuhan nutrisi ibu hamil dan monitoring berat badan ibu hamil.
  2. Program / intervensi gaya hidup sehat harus dilakukan pada semua kelompok umur
  3. Mempromosikan gaya hidup sehat untuk semua populasi.

Berita Lain