Hari Anak 2025: Anak Indonesia Bersaudara


ARTIKEL
Rabu, 23 Juli 2025
463
Hari Anak 2025: Anak Indonesia Bersaudara
Tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional (HAN), momen penting yang mengingatkan kita akan hak-hak dan perlindungan terhadap anak sebagai generasi penerus bangsa. Tahun 2025 ini, peringatan HAN mengusung semangat, "Anak Sehat, Indonesia Hebat", menekankan pentingnya pemenuhan hak anak atas kesehatan fisik, mental, dan sosial. 

Kesehatan Anak Sangat Penting
Kesehatan anak sangat penting karena anak adalah generasi penerus bangsa, dan kualitas masa depan suatu negara sangat ditentukan oleh kesehatan dan kesejahteraan anak-anak hari ini. Anak yang sehat memiliki kesempatan lebih besar untuk tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal menjadi manusia yang produktif, cerdas, dan berdaya saing. Investasi pada kesehatan anak sejak dini akan memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia. Sayangnya, tantangan kesehatan anak masih cukup besar, antara lain:
1. Gizi Buruk Dan Stunting
Menurut data Kemenkes RI, prevalensi stunting nasional berada pada 19,8 % pada tahun 2024, menurun dari 21,5 % pada tahun 2023. Namun demikian angka tersebut masih jauh dari target global, yaitu menekan stunting pada angka 14%. Stunting masih menjadi masalah utama yang mempengaruhi tumbuh kembang dan kecerdasan anak.
2. Kurangnya Aktivitas Fisik dan Pola Makan Tidak Sehat
Gaya hidup yang cenderung kurang gerak dan konsumsi makanan tinggi gula-garam-lemak menjadi ancaman kesehatan anak masa kini karena dapat menimbulkan dampak kesehatan seperti kerusakan gigi, obesitas, gagal ginjal, diabetes pada anak.
3. Masalah Kesehatan Mental
Tekanan akademik, kurangnya interaksi sosial, dan paparan gadget tanpa kontrol dapat memicu gangguan kecemasan hingga depresi pada anak yang berpotensi menimbulkan gangguan mental dan perilaku menyimpang. 

Langkah Nyata untuk Anak yang Lebih Sehat
Dalam rangka Hari Anak Nasional 2025, mari wujudkan lingkungan yang mendukung kesehatan anak dengan langkah-langkah berikut:
1. Persiapkan diri menjadi orang tua
Peran orang tua adalah fondasi utama dalam pertumbuhan fisik, mental, emosional, dan sosial anak. Menjadi orang tua bukan hanya soal memiliki anak, tapi juga tentang kemampuan membimbing, merawat, dan membentuk manusia seutuhnya. Mempersiapkan diri menjadi orang tua dimulai sejak remaja, seperti mengkonsumsi tablet tambah darah rutin untuk mencegah anemia terutama pada remaja putri. Peran ayah sangat penting, dimulai dari peran umum seperti mengelola emosi diri sendiri, stabilitas ekonomi, dan pola komunikasi yang sehat. Hal ini untuk mencegah anak tumbuh pada lingkungan dengan pola asuh buruk, seperti risiko kekerasan, penelantaran, dan perundungan. 
2. Penuhi kebutuhan gizi seimbang
Berikan makanan bergizi lengkap (karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, mineral) sesuai usia dan kebutuhan anak. Jangan hanya terpaku pada menu-menu ala selebgram atau influencer yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kandungan gizinya.
3. Dorong aktivitas fisik dan waktu bermain
Minimal 60 menit aktivitas fisik setiap hari sangat penting bagi tumbuh kembang anak.
4. Batasi screen time dan awasi penggunaan gadget
Anak-anak generasi masa kini merupakan generasi digital native, yaitu mereka yang sudah mengenal media elektronik dan digital sejak lahir. Paparan terhadap internet dan media digital pada anak-anak ini tidak dapat dihindarkan, selain itu, internet dapat menjadi sarana mencerdaskan anak karena menghubungkan anak dengan berbagai sumber informasi. Namun perlu adanya pembatasan screen time atau waktu yang digunakan untuk menggunakan gadget. Berbagai ahli menganjurkan screen time tidak dianjurkan untuk anak 1-2 tahun. Sementara pada usia 2-3 tahun maksimal diperbolehkan 1 jam dan disarankan hanya untuk keperluan interaksi seperti video chat. Selanjutnya pada anak sampai usia 18 tahun, disarankan maksimal 2 jam untuk screen time. Makin banyak waktu yang dihabiskan anak di dunia maya, makin besar peluang untuk terpapar materi yang tidak sesuai usia atau mengalami perlakuan salah oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
5. Perhatikan kesehatan mental anak
Bangun komunikasi yang terbuka, hindari kekerasan verbal maupun fisik, dan ajarkan anak mengenali serta mengelola emosinya, contohnya mengenalkan anak pada kosakata yang mendeskripsikan perasaannya, orang tua menunjukkan perilaku dalam mengelola emosi, validasi perasaan anak dan hindari mengalihkan kesedihan anak, serta gunakan buku cerita untuk mengajarkan anak mengenali emosinya. 
6. Rutin periksa kesehatan
Imunisasi lengkap, pemantauan pertumbuhan, dan deteksi dini penyakit penting untuk dilakukan secara berkala.

Peran Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat
Menjaga kesehatan anak bukan hanya tugas orang tua, tetapi juga peran bersama masyarakat. Sekolah perlu menciptakan lingkungan belajar yang ramah dan mendukung kesehatan anak. Masyarakat juga harus memberikan ruang bermain yang aman serta akses informasi kesehatan anak yang mudah dipahami. Orang dewasa yang belum menjadi orang tua diharapkan mendukung tumbuh kembang anak, seperti:
1. Turut mengawasi lingkungan hidup yang aman, bebas dari narkoba, zat adiktif, kekerasan verbal serta seksual pada anak,
2. Membantu anak-anak kurang mampu melalui kegiatan sosial, gotong royong, donasi, dll,
3. Melibatkan anak dalam kegiatan positif seperti lomba kreativitas, kegiatan sosial, atau forum pemuda, 
4. Memberi pengawasan terhadap konten-konten digital yang tidak ramah anak dan melaporkannya bila perlu,
5. Memberantas diskriminasi terhadap anak disabilitas, anak dari keluarga miskin, atau korban kekerasan.

Hari Anak Nasional 2025 menjadi pengingat bahwa anak-anak adalah investasi bangsa. Mari bersama-sama hadir sebagai pelindung dan pengasuh terbaik mereka—agar kelak mereka tumbuh menjadi generasi sehat, cerdas, dan berdaya saing tinggi. 

Selamat Hari Anak Nasional 2025!
Anak Sehat, Indonesia Hebat!

Share