APA ITU KANKER SERVIKS ?
Kanker serviks adalah kanker yang tumbuh di leher Rahim (serviks) dan 99,7% disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus) grup onkogenik risiko tinggi; terutama HPV 16 dan 18.
Kanker serviks secara umum menyerang wanita berusia 30-39 tahun
Serviks adalah bagian paling bawah dari rahim, berbentuk silinder dan berhubungan dengan vagina
Kanker serviks dapat berasal dari mukosa permukaan serviks atau dari dalam kanal serviks (endoserviks). Kanker ini dapat tumbuh secara lokal dan kemudian meluas ke arah rahim, vagina, jaringan paraserviks dan organ panggul. Kanker serviks dapat menyebar ke kelenjar getah bening regional dan kemudian dapat juga menyebar melalui peredaran darah menuju organ jauh.
Kanker serviks menduduki urutan keempat di dunia sedangkan di indonesia menduduki urutan kedua, dan menempati peringkat ketiga penyebab kematian akibat kanker. Tingginya angka kematian karena kebanyakan pasien datang pada stadium lanjut yaitu stadium IIB-IVB (66,4%). Menurut data GLOBOCAN dalam IARC (2020), kasus kanker serviks di indonesia meningkat 17,2% dengan kematian sejumlah 234.511.
Tingginya kejadian kanker serviks disebabkan kurangnya pencegahan pada wanita usia subur dan kurangnya minat deteksi dini, karena deteksi dini kanker serviks masih tabu di masyarakat. Akibatnya, kanker serviks baru terdeteksi pada stadium lanjut, karena ini sering disebut silent killer.
Dengan adanya berbagai upaya pencegahan dan diagnosis dini, angka kematian bisa ditekan.
BAGAIMANA TANDA DAN GEJALANYA ?
Pada tahap/stadium awal (pra kanker) tidak ada gejala yang jelas, namun setelah berkembang menjadi kanker timbul gejala-gejala keputihan yang tidak sembuh walaupun sudah diobati, keputihan yang keruh dan berbau busuk, perdarahan setelah berhubungan seksual, perdarahan di luar siklus haid dan lain-lain. Pada stadium lanjut dimana sudah terjadi penyebaran ke organ-organ sekitar mungkin terdapat keluhan nyeri daerah panggul, sulit berkemih, buang air besar berdarah dan lain-lain.
Faktor resiko terjadinya kanker antara lain infeksi Papilloma Virus (HPV) serta faktor lainnya seperti paparan zat mutagen adalah faktor hormonal, merokok, berganti-ganti pasangan seksual, konstrasepsi, hubungan seksual dini – wanita yang menjalani hubungan seksual awal < 18 tahun, riwayat penyakit menular seksual, kondisi immunosupresi (HIV, penggunaan obat immunosupresi), sosio ekonomi rendah.
UNTUK MENCEGAH, APA YANG BISA DILAKUKAN?
Sebelum kita membahas tentang deteksi dini, perlu diketahui bahwa penyebab dari kanker servik adalah HPV (Human Papilloma Virus) grup onkogenik risiko tinggi; terutama HPV 16 dan 18, kenapa kita harus tahu hal ini ? karena diantara 40 jenis tipe HPV genital yang diidentifikasi, ada 15 tipe yang merupakan onkogenik. HPV subtipe 16 dan 18 ditemukan berada pada lebih dari 70% kanker serviks. Infeksi HPV genital sangatlah umum, tidak menimbulkan gejala dan sering terjadi walau kanker serviks yang terjadi akibatnya hanya terjadi pada sebagian kecil wanita. Diperkirakan bahwa 75-80% wanita yang aktif seksual akan pernah mengalami infeksi HPV sebelum usia 50 tahun.
Kebanyakan infeksi HPV bersifat sementara, keberadaan virus itu sendiri tidak cukup untuk menyebabkan terjadinya neoplasia serviks. Ketika infeksi HPV terjadi persisten, waktu yang diperlukan dari infeksi pertama untuk berkembang menjadi CIN dan pada akhirnya kanker invasif, memakan waktu rata-rata 15 tahun, walaupun ada banyak laporan kasus dimana perkembangan yang lebih cepat terjadi. Oleh sebab itu, sangat dianjurkan untuk melakukan deteksi dini secara rutin bagi wanita yang sudah melakukan hubungan seksual. (Kristiani, S.Tr.Keb., Bdn RSUD Sleman)
DETEKSI DINI DENGAN :
IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) tes merupakan alternatif skrining untuk kanker serviks. Tes sangat mudah dan praktis dilaksanakan, sehingga dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan non dokter ginekologi, bidan praktek dan tenaga kesehatan yang terlatih dan berkompeten.
Pap smear merupakan salah satu pemeriksaan sitologi yang dapat mendeteksi adanya perubahan-perubahan sel serviks yang abnormal, yaitu suatu pemeriksaan dengan mengambil lendir pada serviks dengan spatula kemudian dilakukan pemeriksaan dengan mikroskop.
Pap smear hanyalah sebatas skrining, bukan diagnosis adanya kanker serviks. Jika ditemukan hasil pap smear yang abnormal, maka dilakukan pemeriksaan standar berupa kolposkopi. Kolposkopi merupakan pemeriksaan dengan pembesaran (4-10x) yang digunakan untuk mengamati secara langsung permukaan serviks dan bagian serviks yang abnormal. Dengan kolposkopi akan tampak jelas lesi-lesi pada permukaaan servik, kemudian dilakukan biopsi terarah pada lesi-lesi tersebut.
PENCEGAHAN :
Vaksinasi HPV merupakan pilihan paling efektif untuk mencegah terjadinya kanker serviks.
Rekomendasi tentang vaksinasi HPV:
Vaksinasi HPV untuk anak perempuan harus dilakukan sebelum dimulainya periode seksual aktif. WHO merekomendasikan vaksin HPV untuk anak perempuan dalam kelompok usia 9-13 tahun. Anak perempuan yang menerima dosis pertama vaksin HPV sebelum usia 15 tahun dapat menggunakan jadwal dua dosis. Interval antara dua dosis harus enam bulan. Tidak ada interval maksimum antara dua dosis; namun, interval tidak lebih dari 12-15 bulan disarankan. Jika interval antara dosis lebih pendek dari lima bulan, maka dosis ketiga harus diberikan setidaknya enam bulan setelah dosis pertama. Pada orang yang imunokompromais, termasuk mereka yang hidup dengan HIV dan perempuan berusia 15 tahun ke atas juga harus menerima vaksin sebanyak tiga dosis (pada 0, 1-2, dan 6 bulan) agar sepenuhnya terlindungi dari infeksi HPV (12)
BAGAIMANA PENANGANAN ATAU PENGOBATANNYA?
Apabila diagnosis kanker serviks invasif telah ditegakkan, maka tahap selanjutnya adalah penentuan stadium. Tujuan penetapan stadium adalah untuk menentukan jenis pengobatan dan prognosis.
Pembagian stadium dari stadium I – IV
Penanganan kasus kanker servik biasanya dengan tindakan pembedahan dari yang sederhana sampai pembedahan besar tergantung dari stadiumnya, setelah itu diberikan pengobatan dengan radiasi atau kemoradiasi atau kemoterapi, sesuai stadiumnya. (Kristiani, S.Tr.Keb., Bdn RSUD Sleman)