Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) sejak tahun 1988 telah mengesahkan Resolusi WHA42.19 yang mana setiap tanggal 31 Mei diperingati sebagai World No Tobacco Day atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Perayaan tersebut bertujuan mengingatkan kita tentang bahaya penggunaan tembakau dan praktik bisnis tembakau. Meskipun kampanye anti-tembakau terus digencarkan, namun kesadaran masyarakat untuk berhenti merokok masih rendah. Kenapa ya merokok itu berbahaya?
Mitra Sehat RSUD Sleman perlu tahu bahwa dalam asap rokok diperkirakan terdapat sekitar 7.000 zat beracun dan berpotensi merusak sel-sel tubuh. Zat-zat tersebut bersifat karsinogenik atau memicu kanker. Asap rokok (tembakau) tidak hanya merugikan perokok aktif saja, tetapi juga sangat berbahaya bagi perokok pasif, terutama anak-anak.
Menurut WHO, tembakau membunuh setidaknya delapan juta orang per tahun. Dari jumlah tersebut, tujuh juta kematian terjadi pada perokok aktif dan satu juta kematian terjadi akibat dampak tidak langsung asap tembakau (perokok pasif).
Data Global Youth Tobacco Survey dan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), menyebutkan ada 3 dari 4 orang mulai merokok di usia kurang dari 20 tahun. Anak-anak menggunakan rokok elektrik pada tingkat yang lebih tinggi daripada orang dewasa dan secara global diperkirakan 37 juta remaja berusia 13-15 tahun menggunakan tembakau. Prevalensi perokok anak terus naik setiap tahunnya. Jika tidak dikendalikan prevalensi perokok anak akan meningkat hingga 16% di tahun 2030.
Apa saja sih kandungan dalam rokok yang bersifat bahaya dan merusak?
Dalam satu batang rokok terdapat zat beracun atau toksin, antara lain:
- Karbon monoksida. Karbon monoksida tidak memiliki rasa dan aroma. Jika terpapar dalam jumlah yang berlebihan, sel-sel darah merah akan cenderung berikatan dengan karbon monoksida daripada oksigen, menyebabkan penurunan fungsi otot dan jantung kelelahan, lemas, dan pusing.
- Nikotin. Nikotin memiliki sifat adiktif. Zat ini bertindak sebagai mediator dalam sistem saraf otak, memicu berbagai reaksi termasuk sensasi menyenangkan dan menenangkan. Nikotin diserap ke dalam aliran darah dan merangsang tubuh untuk memproduksi lebih banyak hormon adrenalin, mengakibatkan peningkatan tekanan darah, denyut jantung, dan pernapasan.
- Tar. Tar yang terhirup oleh perokok akan mengendap di paru-paru. Timbunan tar ini berisiko tinggi menyebabkan penyakit pada paru-paru, seperti kanker paru-paru. Tidak hanya itu, tar akan masuk ke peredaran darah dan meningkatkan risiko terjadinya diabetes, penyakit jantung, hingga gangguan kesuburan. Tar juga dapat mengakibatkan masalah gusi dan kanker mulut.
- Hidrogen sianida. Hidrogen sianida juga digunakan dalam industri tekstil, plastik, kertas, dan sering dipakai sebagai bahan pembuat asap pembasmi hama. Senyawa ini bisa mencegah tubuh menggunakan oksigen dengan baik dan dapat membahayakan otak, jantung, pembuluh darah, dan paru-paru. Keluhan yang dapat timbul adalah sakit kepala, mual, kelelahan, hingga kehilangan kesadaran.
- Benzena. Benzena merupakan residu dari pembakaran rokok. Paparan benzena dalam jangka panjang dapat menurunkan jumlah sel darah merah dan merusak sumsum tulang, sehingga meningkatkan risiko terjadinya anemia dan perdarahan. Selain itu bisa menurunkan daya tahan tubuh serta meningkatkan risiko terkena leukimia.
- Formaldehida. Dalam jangka pendek, formaldehida menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan. Dalam jangka panjang, formaldehida dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring.
- Arsenik. Senyawa ini diklasifikasikan sebagai kelompok pertama karsinogen. Paparan tingkat tinggi arsenik dapat meningkatkan risiko kanker kulit, kanker paru-paru, kanker saluran kemih, kanker ginjal, dan kanker hati.
- Kadmium. Kadmium yang ditemukan dalam asap rokok diserap ke dalam paru-paru. Kadar kadmium yang tinggi dalam tubuh dapat menyebabkan muntah, diare, penyakit ginjal, tulang rapuh, dan meningkatkan risiko kanker paru-paru.
- Amonia. Senyawa ini adalah gas beracun yang tidak berwarna, tetapi memiliki bau tajam yang menyengat. Penghirupan dan paparan jangka pendek terhadap amonia dapat menyebabkan sesak napas, kesulitan bernapas, iritasi mata, dan sakit tenggorokan. Sementara itu, efek jangka panjang dapat menyebabkan pneumonia dan kanker tenggorokan.
Dampak asap rokok bagi tumbuh kembang anak dan kesehatan anak
Efek negatif rokok tidak hanya dirasakan oleh perokok, namun juga dapat dirasakan oleh orang-orang terdekat dan tersayang, seperti anak-anak. Beberapa efek buruk yang dapat mengancam kesehatan dan nyawa anak apabila terlalu sering terpapar asap rokok, diantaranya: Pneumonia, Bronkitis, sindrom kematian mendadak pada bayi, masalah pernafasan ketika dewasa, menghambat pertumbuhan paru-paru, stunting, infeksi telinga serta tuli sebagian, memicu serangan asma atau memperburuk gejala asma.
Mitra Sehat RSUD Sleman, mari bersama-sama melindungi generasi muda dari bahaya rokok dengan mendukung kebijakan publik menciptakan lingkungan kawasan tanpa rokok.
Kunjungi klinik Paru terdekat anda untuk konsultasi henti rokok sebelum terlambat. Salam CERDIK (Cek kesehatan berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin berolahraga minimal 30 menit per hari, Diit dengan kalori seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres).
Referensi:
Kemenkes; Kandungan Rokok yang Berbahaya Bagi Kesehatan. Terakhir di tinjau: 22 Juli 2022. Tersedia di: https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/406/kandungan-rokok-yang-berbahaya-bagi-kesehatan
Kemenkes: 5 Efek Buruk Merokok di Dekat Anak. Terakhir di tinjau : 30 Juni 2022. Tersedia di: https://ayosehat.kemkes.go.id/5-efek-buruk-merokok-di-dekat-anak
Adrian, Kevin: Kenali Bahaya Asap Rokok bagi Anak. Terakhir di tinjau: 8 November 2023. Tersedia di: https://www.alodokter.com/sebab-wajib-menjauhkan-buah-hati-dari-asap-rokok
Centauri, Cynthia: Rokok dan Dampaknya pada Kesehatan Anak: Terakhir di tinjau: 1 Januari 2023. Tersedia di: https://rs.ui.ac.id/umum/berita-artikel/artikel-populer/rokok-dan-dampaknya-pada-kesehatan-anak
Rokom:Perokok Anak Masih Banyak, Revisi PP Tembakau Diperlukan: Terakhir di tinjau: 29 juli 2022. Tersedia di: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20220729/4940807/perokok-anak-masih-banyak-revisi-pp-tembakau-diperlukan/