Demam Berdarah Dengue


ARTIKEL
Jumat, 17 Juni 2022
9339
Demam Berdarah Dengue

Oleh : dr. R. Yuli Kristyanto, SpA

 

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Virus ini ditularkan antar manusia melalui gigitan nyamuk. Seseorang yang terinfeksi virus dengue tidak selalu akan menjadi DBD. Bentuk infeksi virus dengue dapat bervariasi mulai dari yang paling ringan yakni tanpa gejala (asimtomatik), demam yang tidak khas, demam dengue (dengue fever) dengan atau tanpa disertai perdarahan, demam berdarah dengue (dengue hemorrhagic fever/DHF), sampai keadaan yang paling berat yang dapat menyebabkan kematian yaitu sindrom syok dengue (dengue shock syndrome/DSS).

 

Gejala dan Bahaya Infeksi Dengue

Masyarakat seringkali mengenal infeksi virus dengue sebagai penyakit demam yang disertai menurunnya jumlah trombosit (trombositopenia). Jumlah trombosit yang sangat rendah di dalam darah dapat mengakibatkan perdarahan yang sulit terhenti. Namun demikian, trombositopenia yang terjadi pada infeksi virus dengue tidak selalu akan disertai dengan gejala perdarahan. Hal ini mungkin menjadi salah satu penyebab mengapa masyarakat tidak segera mencari pengobatan karena tidak atau belum adanya tanda-tanda perdarahan. Bahaya infeksi virus dengue sebenarnya tidak hanya karena terjadinya trombositopenia atau perdarahan, namun karena terjadinya kebocoran plasma (plasma leakage).

Kebocoran plasma terjadi karena infeksi virus dengue mengakibatkan reaksi peradangan yang menyebabkan dinding pembuluh darah kapiler tidak dapat menahan cairan, sehingga cairan plasma dalam darah akan merembes keluar dari pembuluh darah. Perembesan cairan (plasma) dari pembuluh darah ini mengakibatkan tekanan darah di dalam pembuluh darah turun, sehingga aliran darah menuju ke organ vital menjadi berkurang. Kurangnya aliran darah menuju organ-organ tersebut dapat menyebabkan kerusakan organ yang fatal. Kondisi itu disebut sebagai sindrom syok dengue, penyebab kematian terbanyak karena infeksi virus dengue.

Infeksi dengue yang bergejala (simtomatik) umumnya ditandai dengan munculnya demam yang tinggi mendadak dan menetap pada suhu tinggi sepanjang hari. Demam seringkali disertai dengan gejala nyeri otot, nyeri kepala, nyeri sendi, nyeri di belakang mata dan mual. Pemberian obat penurun panas seperti parasetamol akan sedikit menurunkan suhu tubuh, namun suhu tubuh akan kembali naik tinggi setelah efek obat penurun panas habis. Penderita yang tinggal atau memiliki riwayat berkunjung di daerah endemik dengue dapat memeriksakan diri ke dokter pada demam hari pertama atau kedua. Dokter dapat meminta pemeriksaan antigen NS1 yang dapat mendeteksi infeksi dengue pada awal demam.

Pada hari ketiga hingga kelima demam, suhu demam mungkin akan turun, meskipun tidak kembali ke suhu normal, kemudian akan kembali naik. Saat demam turun tersebut infeksi dengue memasuki masa kritis. Jumlah trombosit dalam darah akan menurun dengan cepat, dan mungkin disertai dengan kebocoran plasma. Oleh karena itu, pada hari-hari tersebut sebaiknya penderita segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat, terutama bila didapatkan tanda bahaya.

Tanda bahaya yang menyertai demam akibat infeksi virus dengue dapat berupa adanya nyeri perut, muntah berulang, munculnya tanda kebocoran plasma (pembesaran hati, sesak, perut membesar), adanya tanda perdarahan (perdarahan mulut, gusi, mimisan atau perdarahan di kulit), kondisi menjadi yang lemas atau gelisah, denyut jantung yang cepat, perabaan nadi yang lemah, atau tangan kaki yang dingin. Bila didapatkan tanda bahaya atau kelainan pada hasil laboratorium yang menjadi indikasi pemantauan ketat, dokter akan meminta pasien untuk dirawat inap di rumah sakit.

Kematian akibat infeksi virus dengue paling sering diakibatkan oleh penderita yang terlambat dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Sehingga sebaiknya masyarakat lebih waspada dan memeriksakan diri seawal mungkin, terutama bila tinggal atau memiliki riwayat bepergian di daerah endemis dengue.

 

Pencegahan Infeksi Dengue

Infeksi virus dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk betina yang dalam tubuhnya terdapat virus dengue. Nyamuk betina menghisap darah manusia untuk mematangkan telur dalam tubuhnya. Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor utama untuk penularan penyakit dengue. Nyamuk lain yang lebih jarang adalah Aedes albopictus dan yang sangat jarang adalah Aedes polynesiensis dan Aedes scutellaris.

Nyamuk spesies Aedes betina meletakkan telurnya pada tempat penampungan air bersih yang tidak berhubungan langsung dengan tanah seperti vas bunga, tempat minum burung, ban bekas, kaleng bekas, gelas plastik bekas, batok kelapa yang didalamnya terisi genangan air hujan. Dalam genangan air tersebut telur akan berubah menjadi jentik (larva), kemudian menjadi kepompong (pupa) dan akhirnya menjadi nyamuk dewasa. Proses dari telur menjadi nyamuk dewasa ini memerlukan waktu sekitar 7 -10 hari.

Nyamuk spesies Aedes umumnya mengisap darah pada siang hari (dari pagi sampai petang), dan memiliki perilaku mengisap darah dari beberapa orang sekaligus (ini alasan di satu tempat dapat terjadi banyak orang yang terinfeksi virus dengue bersamaan). Nyamuk tersebut hidup di sekitar perumahan atau tempat-tempat umum, menyukai tempat yang redup, seperti pada baju atau kain yang bergantungan di balik pintu, atau beristirahat di kolong/bawah meja atau kursi. Ia memiliki jarak terbang sekitar 100–200 meter.

Karena virus dengue terutama ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, maka pembasmian nyamuk merupakan cara utama untuk mengendalikan wabah dengue. Masyarakat umumnya percaya bahwa nyamuk dapat dapat dibasmi dengan penyemprotan insektisida. Penyemprotan insektisida hanya akan membunuh nyamuk dewasa, namun tidak dapat membunuh telur, larva dan pupa yang hidup di genangan air. Sehingga penyemprotan insektisida saja tidak akan efektif membasmi nyamuk Aedes.

Pembasmian nyamuk harus dibarengi dengan tindakan 3M Plus, yakni menguras dan menyikat tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas agar tidak menampung air, serta mencegah gigitan dan perkembangbiakan nyamuk (meletakkan pakaian bekas pada tempat tertutup, menabur larvasida (Abate) pada penampungan air yang sulit dikuras, menggunakan obat anti nyamuk, memasang tirai anti nyamuk pada ventilasi). Karena proses perkembangan dari telur menjadi nyamuk membutuhkan waktu 7-10 hari, maka menguras tempat penampungan air harus dikerjakan sekurang-kurangnya setiap 7 hari sekali.

Pengendalian wabah dengue membutuhkan peran serta masyarakat yang sangat besar dan serempak pada satu wilayah. Populasi nyamuk tidak akan terkendali jika hanya beberapa warga saja yang melakukan gerakan 3M plus, karena nyamuk dapat berkembang biak pada lokasi yang tidak terjangkau gerakan 3M. Upaya pengendalian itu harus dilakukan rutin dan berkesinambungan, agar nyamuk tidak kembali berkembang biak pada wilayah tersebut.

 (sumber: website IDAI)

 

 


Share