Tanggal 28 Juli dipilih sebagai Hari Hepatitis Sedunia untuk menghormati kelahiran Dr. Baruch Samuel Blumberg, peraih nobel yang menemukan virus hepatitis B (HBV) dan mengembangkan vaksin serta metode diagnosis virus tersebut. Tahun ini, tema Hari Hepatitis Sedunia adalah "Let's break it down. Get the facts. Take action." yang secara harfiah berarti "Mari Hancurkan Ini. Dapatkan Faktanya. Ambil tindakan." Kampanye global Hari Hepatitis Sedunia mengajak semua orang untuk mengambil peran dalam mengakhiri hepatitis sebagai ancaman kesehatan masyarakat.
Bagi Indonesia, peringatan Hari Hepatitis Sedunia 2025 menjadi momentum penting untuk memperkuat langkah dalam mengakhiri hepatitis sebagai ancaman kesehatan masyarakat. Melalui tema nasional "Bergerak Bersama, Putuskan Penularan Hepatitis", untuk target eliminasi hepatitis B dan C pada 2030. Berdasarkan Survei Kesehatan 2023, di Indonesia terdapat sekitar 6,7 juta orang dengan hepatitis B dan 2,5 juta dengan hepatitis C. Hepatitis kronik, terutama tipe B dan C, merupakan penyebab utama kanker hati, yang menjadi penyebab kematian ketiga terbanyak secara global.
Prof. David H. Muljono dari Komite Ahli Hepatitis Kemenkes RI memperingatkan bahwa lebih dari 60 persen masyarakat Indonesia belum memiliki kekebalan terhadap hepatitis B, jika tidak segera ditangani melalui imunisasi dan skrining dini bisa menjadi penderita di masa depan.
Hepatitis adalah peradangan pada hati atau liver. Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari infeksi virus, kebiasaan mengonsumsi alkohol, penggunaan obat-obatan tertentu, penyakit autoimun, dan infeksi cacing hati. Jika disebabkan oleh infeksi virus, hepatitis bisa menular ke orang lain
Penderita hepatitis biasanya tidak merasakan gejala sampai beberapa minggu atau telah terjadi gangguan fungsi hati. Pada penderita hepatitis akibat infeksi virus, gejala akan muncul setelah masa inkubasi, yakni sekitar 2 minggu sampai 6 bulan.
Gejala umum yang muncul pada penderita hepatitis adalah : mual dan muntah, demam, mudah lelah, feses berwarna pucat, urine berwarna gelap, nyeri perut, nyeri sendi, kehilangan nafsu makan, penyakit kuning, dan penurunan berat badan.
Jika tidak ditangani dengan baik, hepatitis dapat menimbulkan komplikasi, seperti gagal hati, sirosis, hepatitis fulminan, atau kanker hati (hepatocellular carcinoma).
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita hepatitis, antara lain :
Hepatitis dapat dicegah dengan melakukan beberapa upaya berikut:
"Penanggulangan hepatitis bukan semata tanggung jawab Kemenkes, Dinas Kesehatan ataupun para dokter. Ini adalah tugas kita bersama. Mari kita putuskan penularan hepatitis bersama-sama". Saat ini masyarakat bisa memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG), melengkapi imunisasi anak, serta mendukung edukasi dan pemantauan kesehatan untuk mewujudkan generasi Indonesia bebas hepatitis.
Salam sehat