Oleh: Alfonsa Ratri Wiratna Sari , Dewi Ratna Sari, Ema Wahyuningsih
Osteoarthritis adalah penyakit sendi yang terjadi pada cartilago (tulang rawan) yang ditandai dengan timbulnya nyeri saat terjadi penekanan sendi yang terkena. Kelainan pada kartilago akan berakibat tulang bergesekan satu sama lain, sehingga timbul gejala kekakuan, nyeri pembatasan gerak pada sendi (Helmi, 2016). Berdasarkan data dari RISKESDAS 2018 penduduk yang mengalami penyakit sendi di Indonesia tercatat sebesar 7,3 % dan osteoarthritis OA merupakan penyakit umum yang terjadi. Di Jawa Tengah pada tahun 2018 jumlah prevalensi penderita osteoarthritis sebanyak 6,78% (Riskesdas, 2018). Nyeri Osteoarthritis (OA) adalah nyeri yang diakibatkan oleh gangguan sendi yang bersifat kronis disertai kerusakan tulang dan sendi berupa disintegrasi dan pelunakan progresif tulang rawan sendi yang disebut osteofit dan fibrosis pada kapsul sendi. Kelainan ini timbul akibat mekanisme abnormal proses penuaan, trauma atau kelainan lain yang menyebabkan kerusakan tulang rawan sendi. Keadaan ini tidak berkaitan dengan faktor sistemik atau infeksi (Stacy, 2016). Penyebab utama dari osteoarthritis masih belum diketahui secara pasti. Faktor risiko dari penyakit osteoarthritis dapat dikelompokkan menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi predisposisi generalisata (faktor sistemik) dan faktor yang mempengaruhi beban biomekanik pada sendi (faktor lokal). Beberapa faktor risiko yang dapat berperan pada penyakit ostoearthritis adalah usia, jenis kelamin, genetik, kegemukan, cedera sendi, pekerjaan dan olahraga, dan kelainan pertumbuhan serta faktor-faktor lainnya (Soeroso, 2014). Penatalaksanaan yang diberikan untuk mengatasi nyeri pada lanjut usia dengan osteoarthritis adalah terapi farmakologi dan non farmakologi. Penatalaksanaan nyeri dengan farmakologi pada penderita osteoarthritis biasanya dengan pemberian obat-obatan analgetik seperti Obat Anti Inflamasi Nonsteroid (OAINS) (Zuriati, 2017). Terapi non farmakologi pada penderita osteoarthritis dapat berupa dengan terapi komplementer yang menggunakan tanaman. Salah satu tanaman yang bisa digunakan untuk menurunkan nyeri sendi adalah jahe dengan cara kompres jahe. Jahe mempunyai kandungan yang bersifat pedas, pahit dan aromatik. Terapi pengobatan non farmakologi kompres jahe merupakan tindakan yang sering kali dilakukan sebagai obat pereda nyeri persendian. Kandungan jahe yang berupa gingerol dan rasa hangat yang ditimbulkannya membuat pembuluh darah terbuka dan memperlancar sirkulasi darah, sehingga suplai makanan dan oksigen lebih baik dan nyeri sendi berkurang (Izza, 2014). Beberapa penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa kompres jahe berpengaruh terhadap penurunan skala nyeri osteoarthritis pada pasien lanjut usia dan kompres dengan jahe lebih efektif dibandingkan dengan kompres dengan air hangat (Farizal, 2018). Pengolahan jahe untuk kompres nyeri dapat dilakukan dengan berbagai pilihan diantaranya dengan diparut, direbus maupun dengan ditumbuk. Cara mengolah jahe dengan diparut yaitu cuci bersih jahe 3 sampai 5 ruas, kemudian parut jahe dan ditempatkan di dalam mangkok, aduk adonan seperti menjadi bubur kemudian balurkan jahe tersebut pada sendi yang sakit, kemudian sisa parutan jahe di perbankan pada sendi yang bengkak, lakukan 2x sehari selama 15 menit selama 1 minggu (Safitri el al., 2019). Semoga bermanfaat dan selamat mencoba.
Daftar Pustaka:
Farizal, J., Mulyati, L., Susiwati, S. (2018). Kompres Jahe Merah Berpengaruh Terhadap Penurunan Skala Nyeri Osteoarthritis Pada Lanjut Usia Di Wilayah Kerja Puskesmas Kampung Delima Tahun 2016. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan 5(2), 192-200. doi.org/10.32668/jitek.v5i2.27, //Helmi, Z.N (2016). Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta: Salemba Medika., //Izza, S. (2014). Perbedaan Efektivitas Pemberian Kompres Air Hangat dan Pemberian Kompres Jahe Terhadap Penurunan Nyeri Sendi Pada Lansia Di Unit Rehabilitas Sosial Wening Wardoyo Ungaran. Skripsi: STIKES Ngudi Waluyo Ungaran.,//Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (2018). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian RI tahun 2018. Retrieved from: http://www.depkes.go.id/resources/download/infoterkini/materi_rakorpop_20 //Safitri, W., Utami, R. D. L. P. (2019). Pengaruh Kompres Jahe Merah Terhadap Osteoarthritis Pada Lansia. Jurnal Kesehatan Kusuma Husada, 115-119. doi.org/10.34035/jk.v10il.338// Soeroso. J., Isbagio, H., Kalim, H., Broto, R., Pramudio, R. Osteoartritis. Dalam: Setiati S, Alwi I, Sudoyo A, Simadibrata M, Setyohadi B, Syam A, ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi VI. Jakarta: Interna Publishing; 2014; 3197–209.//Stacy, G. S. (2016). Primary Osteoarthritis Imaging and Diagnosis. Retrieved from: https://emedicine.medscape.com/article/392096-overview?form=fpf// Zuriati .(2017). Efektivitas Kompres Air Hangat dan Kompres Jahe terhadap Penurunan Nyeri pada Pasien Asam Urat di Puskesmas Lubuk Begalung. Retrieved from: https://ejournal.annurpurwodadi.ac.id/index.php/TSCS1Kep/article/view/77/85Persiapan