Gangguan epilepsi dapat menyerang siapapun di seluruh dunia dengan segala usia, mulai dari bayi yang baru lahir hingga lanjut usia. Epilepsi menyerang sekitar 4-10 orang per 1000 penduduk di seluruh dunia. Wah, ternyata lumayan banyak ya orang dengan epilepsi!
Nah, apakah Mitra Sehat RSUD Sleman sudah tahu apa itu epilepsi? Kenali epilepsi dengan simak artikel ini yuk!
Apa itu Epilepsi?
Epilepsi berasal dari bahasa Yunani “epilepsia” yang artinya adalah gangguan sistem saraf kronis yang ditandai dengan kejang berulang tanpa sebab, kejang sementara dan/atau gejala dari aktivitas saraf yang abnormal, berlebihan atau tidak sinkron di otak. Di Indonesia, orang mengenal epilepsi dengan sebutan ‘ayan’, meskipun bentuk serangan epilepsi tidak hanya ayan saja. Nah, Mitra Sehat RSUD Sleman juga perlu tahu bahwa penyakit ini terkadang menimbulkan konsekuensi tertentu, seperti mengganggu kualitas hidup dan penurunan fungsi kognitif atau mental. Kenapa bisa demikian? Karena pada umumnya, pengidap epilepsi mengalami kejang berulang di waktu yang sulit diprediksi. Bahkan kejang bisa terjadi di saat tidur atau istirahat malam hari.
Apa Saja Faktor Risiko Epilepsi?
Epilepsi adalah penyakit yang umum terjadi dan bisa menyerang siapa saja. Namun demikian, di Indonesia sendiri, epilepsi sering dikaitkan dengan ‘penyakit mistis’ atau ‘sawan’ dan sebabnya juga dikaitkan dengan hal tak kasat mata. Ketidaktahuan masyarakat tentang sebab epilepsi, memiliki dampak merugikan pada kesejahteraan sosial dan psikologis pengidap epilepsi, contohnya isolasi sosial dan stigmatisasi yang menghalangi pencapaian prestasi belajar atau kesempatan kerja yang buruk bagi para pengidap epilepsi.
Dalam bidang medis, terdapat beberapa faktor risiko yang berpotensi meningkatkan terjadinya epilepsi, antara lain:
- Usia, diperkirakan 40%-50% epilepsi terjadi pada anak-anak;
- Genetik, orang dengan riwayat anggota keluarga yang mengidap epilepsi, cenderung lebih berisiko mengalami epilepsi;
- Cedera pada kepala;
- Stroke dan penyakit vaskular;
- Demensia;
- Infeksi otak, seperti meningitis;
- Riwayat kejang di masa kecil yang disebabkan oleh demam tinggi, pada kondisi ini anak lebih rentan mengalami epilepsi.
Selain faktor risiko tersebut, penyebab epilepsi dapat dibagi menjadi 2 (dua) yaitu:
- Epilepsi Idiopatik disebut juga sebagai epilepsi primer, jenis epilepsi yang penyebabnya tidak diketahui atau mungkin disebabkan faktor genetik;
- Epilepsi Simptomatik juga disebut epilepsi sekunder, jenis epilepsi yang penyebabnya bisa diketahui, contohnya seperti cidera berat di kepala, tumor otak dan stroke.
Bagaimana Gejala Epilepsi?
Tidak semua kejadian kejang adalah penyakit epilepsi. Pengidap epilepsi harus mendapat diagnosa dari tenaga medis, terutama dokter spesialis saraf. Untuk kasus pada anak, epilepsi biasanya ditangani bersama dengan dokter spesialis anak atau jika terjadi komplikasi, secara khusus ditangani oleh dokter sub spesialis saraf anak. Untuk mendapatkan diagnosa medis, Mitra Sehat RSUD Sleman perlu mengetahui bentuk serangan epilepsi agar segera mendapatkan perawatan yang tepat, sebagai berikut:
- Kejang tonik yaitu tubuh menjadi kaku selama beberapa detik/menit atau dalam beberapa kasus, terdapat kejang atonik yaitu otot tubuh tiba-tiba menjadi rileks, sehingga pengidap bisa jatuh tanpa kendali;
- Kesulitan bernafas untuk beberapa saat, sehingga badan terlihat pucat atau bahkan membiru;
- Mata yang terbuka saat kejang;
- Terkadang pengidap epilepsi mengeluarkan suara atau berteriak saat mengalami kejang;
- Kecenderungan mengompol;
- Tidak sadarkan diri dan setelah sadar terlihat bingung selama beberapa menit atau jam.
Gejala tersebut sangat bervariasi pada tiap individu dan dapat juga dibarengi dengan gangguan lain, seperti depresi, gangguan cemas, dan migrain. Jika mengalami kondisi di atas, diharapkan Mitra Sehat RSUD Sleman dapat segera berkonsultasi dengan dokter.
Bagaimana Pertolongan Pertama pada Epilepsi?
Memberikan pertolongan pertama pada epilepsi sangat diperlukan untuk menghindari cidera. Jika Mitra Sehat RSUD Sleman melihat seseorang mengalami epilepsi atau kejang, ada beberapa pertolongan pertama yang bisa dilakukan, yaitu:
- Amankan posisi penderita dengan memindahkannya ke tempat datar dan jauh dari keramaian, benda tajam, atau benda lain yang bisa melukai;
- Bila memungkinkan, berikan bantal atau alas lembut yang datar untuk memastikan posisi kepala tidak terhantam lantai yang keras;
- Jangan menahan tubuh penderita epilepsi saat kejang;
- Memiringkan tubuh ke salah satu sisi untuk menghindari kemungkinan tersedak air liur atau muntahan saat terjadi epilepsi;
- Bila penderita mengenakan pakaian yang ketat, longgarkan pakaiannya, dan lepaskan aksesoris di sekitar leher, seperti dasi, kerah, atau kalung, untuk membantu pernapasan;
- Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut untuk mencegah cedera pada gigi dan rongga mulut;
- Hitung durasi kejang sampai benar-benar berhenti menggunakan jam atau stopwatch di ponsel;
- Pastikan hanya memberi minum dan makan ketika kondisi penderita sudah benar-benar sadar, stabil, dan tidak ada kejang susulan;
- Jangan berikan pijat jantung atau bantuan napas, kecuali jika tiba-tiba penderita tidak bernapas atau denyut nadinya tidak teraba;
- Segera hubungi fasilitas kesehatan terdekat jika terjadi kejang berulang dan berlangsung lebih dari 5 menit.
Bantuan kecil dari orang-orang sekitar dan menghilangkan stigma serta diskriminasi untuk pengidap epilepsi, akan sangat bermakna untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Pengidap epilepsi yang menjalani pengobatan secara rutin, dimungkinkan tetap mampu menjalani kehidupan dengan baik.
Epilepsi bukan penyakit kutukan ataupun kerasukan. Pengidap epilepsi adalah orang biasa yang membutuhkan dukungan dari masyarakat. Kita harus mengedukasi satu sama lain dengan pengetahuan tentang epilepsi, bersama kita dapat menghilangkan ketakutan dan menyebarluaskan pemahaman tentang epilepsi di Hari Kesadaran Epilepsi (Purple Day for Epilepsy) 26 Maret 2025.
Referensi
- Kementerian Kesehatan RI. 2022. Mari Kenali Gejala Epilepsi. Diakses melalui https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/71/mari-kenali-gejala-epilepsi tanggal 26 Maret 2025.
- Lukas, A., Harsono, H. and Astuti, A., 2016. Gangguan kognitif pada epilepsi. Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana, 1(2), pp.144-152.
- Maryanti, N.C.W., 2016. Epilepsi dan budaya. Buletin Psikologi, 24(1), pp.23-32.
- Suwarba, I.G.N.M., 2016. Insidens dan karakteristik klinis epilepsi pada anak. Sari Pediatri, 13(2), pp.123-8.