Oleh : dr.
Asriningrum, Sp.KFR
Pikun (demensia) adalah berkurangnya kemampuan
berpikir, daya ingat atau memori. Kemampuan pikir
disini merujuk pada kemampuan seseorang mengerti dunianya, meliputi kemampuan
orientasi tempat, waktu dan individu, kemampuan berhitung (aritmatika),
berpikir abstrak, fokus dan berpikir logis. Daya ingat adalah kemampuan individu untuk
menyimpan informasi dan memanggilnya kembali saat diperlukan beberapa saat
kemudian.
Pikun tidak hanya menjadi masalah pada orang
tua saja, tetapi juga bisa terjadi pada usia muda. Riset yang dikeluarkan oleh The Alzheimer's Society pada 2014,
mengungkap ada 42.000 penduduk usia produktif di Inggris terkena Early Onset Dementia (EOD), sebagai
tanda demensia. Early Onset
Dementia (EOD) merupakan pikun yang terjadi sebelum usia 65 tahun.
Penelitian di Malang tahun 2013 menunjukkan EOD mulai muncul pada usia 15-25
tahun.
Penyebab utama pikun adalah penyakit Alzheimer.
Selain itu, efek pengobatan, depresi, konsumsi alcohol, stress, penyakit kronis,
kurang istirahat, dan efek penuaan juga dapat menyebabkan kepikunan. Gejala pikun di usia muda antara lain: gangguan mengingat, sulit
fokus, sulit melakukan kegiatan familier, lupa waktu, kesulitan visuospasial,
gangguan komunikasi, meletakkan barang tidak pada tempatnya, salah membuat
keputusan, menarik diri dari pergaulan, perubahan perilaku dan kepribadian. Salah satu cara deteksi
dini kepikunan adalah dengan melakukan Clock Drawing test.
Pada tes ini seseorang diminta untuk
menggambar jam konvensional, lengkap dengan angka dan jarum penunjuk waktu. Individu
dikatakan potensial mengalami pikun jika hasil tes menunjukkan error. Error dapat muncul berupa angka
yang tidak lengkap, angka berulang, salah urutan angka, salah penulisan waktu
yang diminta.
Pikun
dapat dicegah dengan melakukan kegiatan yang memacu pembelajaran otak, salah
satunya dengan beraktivitas fisik atau berolah raga. Aktivitas fisik dapat
meningkatkan kognitif dengan meningkatkan saturasi oksigen dan neurotrofin otak
yang dapat meningkatkan viabilitas neuron, plastisitas otak serta memperbanyak
jumlah sinaps (sambungan informasi antar sel otak). Gerakan akan membangkitkan
dan mengaktivasi kapasitas mental, mengintegrasikan dan menjangkarkan informasi
baru dalam sistem saraf untuk mengekspresikan proses pikir.
Olah
raga seperti apa yang bisa mencegah kepikunan? Yaitu olah raga yang di dalamnya
terdapat gerakan kompleks, misalnya senam aerobik, latihan fleksibilitas, bersepeda,
berlari, jalan cepat, olah raga permainan seperti engklek, gobak sodor,
sekongan dll. Banyak penelitian melaporkan peningkatan ekspresi neurotrofin - Brain
Derived Neurotrphic Factor (BDNF) di hipokampus setelah latihan fisik
berkaitan langsung dengan perbaikan plastisitas sinaps otak dan fungsi
kognisi.Perbaikan plastisitas sinaps berperan penting dalam proses belajar dan
fungsi memori. Dengan kata lain aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin
dapat memperbaiki memori dan kemampuan berpikir seseorang sehingga memperlambat
kepikunan yang terjadi. Aktivitas fisik dilakukan 3-5x per minggu dengan durasi
setidaknya 30 menit.