Penanganan Cedera Olahraga


ARTIKEL
Kamis, 08 September 2022
19069
Penanganan Cedera Olahraga

oleh : dr. Dananjaya Putramega, Sp. OT

Cedera olahraga adalah kerusakan pada bagian tubuh yang diakibatkan oleh aktivitas olahraga. Secara pembagian waktu kejadian, cedera olahraga dibagi menjadi dua, yaitu akut (mendadak) atau kronis (berkembang seiring waktu).

Mekanisme terjadinya cedera olahraga pada umumnya disebabkan oleh penggunaan yang berlebihan, benturan langsung, atau penerimaan gaya / kekuatan yang lebih besar daripada yang dapat ditahan oleh bagian tubuh secara struktural. Sebagai contoh dari cedera akibat penggunaan yang berlebihan adalah cedera retak tulang pada atlit lari, peradangan siku pada olahraga tenis atau golf. Sedangkan benturan langsung biasanya terjadi pada olahraga kontak seperti sepakbola, basket, rugby dll. Kelompok yang terakhir contohnya adalah putusnya ligamen ACL, ligamen achilles dll.

Penanganan cedera olahraga sangat berbeda tergantung dari jenis cedera dan keparahannya. Namun penanganan pertama pada cedera olahraga secara umum sama. Rekomendasi secara medis untuk penanganan pertama adalah :

1.    Proteksi (Protection)

Proteksi dimaksudkan untuk melindungi bagian tubuh yang mengalami cedera. Hal ini bertujuan untuk mencegah cedera bertambah parah. Proteksi dilakukan dengan menggunakan spalk, atau menggendong lengan yang cedera jika terjadi cedera pada bahu, atau dengan mengurangi beban sampai dengan tidak menapak dengan menggunakan kruk jika cedera terjadi pada kaki atau ekstrimitas bawah.

2.    Istirahat (Rest)

Istirahat bertujuan untuk membantu proses penyembuhan pada bagian tubuh yang cedera. Istirahat bukan berarti tidak melakukan aktivitas sama sekali, namun mengistirahatkan bagian tubuh yang cedera saja. Segera setelah cedera membaik, ditandai dengan nyeri, bengkak yang reda, aktivitas pada bagian yang cedera bisa dimulai dengan perlahan. Jika nyeri tidak membaik, tentunya pemeriksaan oleh dokter dibutuhkan untuk menentukan penanganan lebih lanjut.

3.    Kompres dengan es (Ice)

Pemberian kompres es bertujuan untuk mencegah, mengurangi bengkak dan mengurangi nyeri pada bagian tubuh yang cedera. Kompres es dilakukan pada awal setelah terjadinya cedera selama 15-20 menit setiap 2-3 jam. Hindari kontak langsung es dengan kulit untuk mencegah terjadinya trauma pada kulit. Alergi atau iritasi pada kulit bisa terjadi, ditandai dengan perubahan warna kulit menjadi kemerahan atau bercak-bercak pada area dengan kontak es. Segera hentikan kompres es jika hal ini terjadi.

4.    Balut kompresi (Compression)

Balut kompresi menggunakan perban elastis atau brace (deker) untuk memberikan penekanan sehingga mengurangi bengkak dan memberikan batasan gerakan pada area cedera. Penggunaan perban elastis harus secara tepat, yaitu dengan tidak menarik perban secara berlebihan sehingga memberikan kompresi yang cukup. Perban elastis dipakai mulai dari bagian bawah area yang cedera sampai dengan diatas bagian yang cedera. Jika terjadi rasa baal, kesemutan, pucat pada bagian bawah dari area yang dipasang perban elastis berarti penggunaan perban tersebut menghambat aliran darah ke arah bawah. Kurangi kompresi dengan mengendurkan balutannya.

5.    Tinggikan (Elevation)

Meninggikan area yang cedera bertujuan mengurangi bengkak, sehingga mengurangi nyeri dan memungkinkan pemulihan gerakan lebih awal. Hal yang perlu dilakukan adalah memposisikan area yang cedera lebih tinggi dari jantung, misalnya dengan mengganjal menggunakan bantal saat tidur. Terapi ini bermanfaat terutama pada 48 jam pertama setelah cedera.

 

Kelima hal tersebut diatas sangat penting dan mudah dilakukan pada saat terjadi cedera olahraga. Untuk memudahkan mengingatnya bisa dengan menyingkat menjadi PRICE. Selain itu, pemberian obat pereda nyeri bisa diberikan untuk mengurangi nyeri akibat cedera olahraga.

Hal yang perlu dihindari untuk mencegah perburukan pada area yang cedera adalah menggunakan kompres panas, melakukan peregangan pada area cedera atau memberi beban, atau melakukan pemijatan yang terlalu keras.

Jika cedera olahraga dirasa serius, tidak membaik setelah penanganan pertama dilakukan, sangat disarankan untuk berobat ke dokter, baik dokter umum maupun dokter orthopedi. Diagnosa cedera olahraga dan penanganan lanjutan yang tepat oleh tim dokter orthopedi dan rehabilitasi medik memungkinkan penyembuhan yang lebih optimal. 


Share