oleh :
dr. Dananjaya Putramega, Sp. OT
Cedera olahraga adalah kerusakan pada bagian tubuh yang
diakibatkan oleh aktivitas olahraga.
Secara pembagian waktu kejadian, cedera
olahraga dibagi menjadi dua, yaitu
akut (mendadak) atau kronis (berkembang seiring waktu).
Mekanisme
terjadinya cedera olahraga pada
umumnya disebabkan oleh
penggunaan yang berlebihan, benturan langsung, atau penerimaan gaya / kekuatan
yang lebih besar daripada yang dapat
ditahan oleh bagian tubuh secara struktural. Sebagai contoh
dari cedera akibat penggunaan yang berlebihan adalah cedera retak tulang pada
atlit lari, peradangan siku pada olahraga tenis atau golf. Sedangkan benturan
langsung biasanya terjadi pada olahraga kontak seperti sepakbola, basket, rugby
dll. Kelompok yang terakhir contohnya adalah putusnya ligamen ACL, ligamen
achilles dll.
Penanganan cedera
olahraga sangat berbeda tergantung dari jenis cedera dan keparahannya. Namun
penanganan pertama pada cedera olahraga secara umum sama. Rekomendasi secara
medis untuk penanganan pertama adalah :
1.
Proteksi (Protection)
Proteksi dimaksudkan untuk melindungi
bagian tubuh yang mengalami cedera. Hal ini bertujuan untuk mencegah cedera
bertambah parah. Proteksi dilakukan dengan menggunakan spalk, atau menggendong
lengan yang cedera jika terjadi cedera pada bahu, atau dengan mengurangi beban
sampai dengan tidak menapak dengan menggunakan kruk jika cedera terjadi pada
kaki atau ekstrimitas bawah.
2.
Istirahat (Rest)
Istirahat bertujuan untuk membantu
proses penyembuhan pada bagian tubuh yang cedera. Istirahat bukan berarti tidak
melakukan aktivitas sama sekali, namun mengistirahatkan bagian tubuh yang
cedera saja. Segera setelah cedera membaik, ditandai dengan nyeri, bengkak yang
reda, aktivitas pada bagian yang cedera bisa dimulai dengan perlahan. Jika
nyeri tidak membaik, tentunya pemeriksaan oleh dokter dibutuhkan untuk
menentukan penanganan lebih lanjut.
3.
Kompres dengan es (Ice)
Pemberian kompres es bertujuan untuk
mencegah, mengurangi bengkak dan mengurangi nyeri pada bagian tubuh yang
cedera. Kompres es dilakukan pada awal setelah terjadinya cedera selama 15-20
menit setiap 2-3 jam. Hindari kontak langsung es dengan kulit untuk mencegah
terjadinya trauma pada kulit. Alergi atau iritasi pada kulit bisa terjadi, ditandai
dengan perubahan warna kulit menjadi kemerahan atau bercak-bercak pada area
dengan kontak es. Segera hentikan kompres es jika hal ini terjadi.
4.
Balut kompresi (Compression)
Balut kompresi menggunakan perban
elastis atau brace (deker) untuk
memberikan penekanan sehingga mengurangi bengkak dan memberikan batasan gerakan
pada area cedera. Penggunaan perban elastis harus secara tepat, yaitu dengan
tidak menarik perban secara berlebihan sehingga memberikan kompresi yang cukup.
Perban elastis dipakai mulai dari bagian bawah area yang cedera sampai dengan
diatas bagian yang cedera. Jika terjadi rasa baal, kesemutan, pucat pada bagian
bawah dari area yang dipasang perban elastis berarti penggunaan perban tersebut
menghambat aliran darah ke arah bawah. Kurangi kompresi dengan mengendurkan
balutannya.
5.
Tinggikan (Elevation)
Meninggikan area yang cedera bertujuan
mengurangi bengkak, sehingga mengurangi nyeri dan memungkinkan pemulihan
gerakan lebih awal. Hal yang perlu dilakukan adalah memposisikan area yang
cedera lebih tinggi dari jantung, misalnya dengan mengganjal menggunakan bantal
saat tidur. Terapi ini bermanfaat terutama pada 48 jam pertama setelah cedera.
Kelima hal tersebut diatas sangat penting dan mudah
dilakukan pada saat terjadi cedera olahraga. Untuk memudahkan mengingatnya bisa
dengan menyingkat menjadi PRICE. Selain
itu, pemberian obat pereda nyeri bisa diberikan untuk mengurangi nyeri akibat
cedera olahraga.
Hal yang perlu
dihindari untuk mencegah perburukan pada area yang cedera adalah menggunakan
kompres panas, melakukan peregangan pada area cedera atau memberi beban, atau
melakukan pemijatan yang terlalu keras.
Jika cedera
olahraga dirasa serius, tidak membaik setelah penanganan pertama dilakukan,
sangat disarankan untuk berobat ke dokter, baik dokter umum maupun dokter
orthopedi. Diagnosa cedera olahraga dan penanganan lanjutan yang tepat oleh tim
dokter orthopedi dan rehabilitasi medik memungkinkan penyembuhan yang lebih
optimal.