Oleh : Tim Instalasi Farmasi RSUD Sleman
Setiap tanggal 28 Juli oleh World Health Organization disepakati sebagai Hari Hepatitis Sedunia. Tanggal 28 Juli juga merupakan hari ulang tahun Dr. Baruch Blumberg penemu virus hepatitis B pada tahun 1967, dan 2 tahun kemudian mengembangkan vaksin hepatitis B yang pertama. Hepatitis B merupakan penyakit hati menular yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Virus ini merupakan salah satu tipe dari banyak virus yang menyerang hati. Hepatitis B dibedakan menjadi dua, yakni hepatitis B akut (sementara, terjadi 6 bulan pertama setelah seseorang terpapar HBV) dan hepatitis B kronik.
Obat yang dikonsumsi oleh pasien mengalami proses penyerapan, distribusi, metabolisme dan eliminasi. Proses-proses ini menentukan seberapa cepat dan berapa lama obat akan ada di organ sasaran. Setelah obat diserap menembus dinding usus, obat akan disalurkan oleh darah ke hati sebelum masuk ke sirkulasi sistemik. Pada umumnya, hatilah yang bertanggung jawab dalam metabolisme sebelum obat mencapai sirkulasi sistemik. Metabolisme obat adalah proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi di dalam tubuh dan dipengaruhi oleh enzim. Salah satu obat yang biasa digunakan dan dimetabolisme di hati adalah paracetamol.
Paracetamol memiliki fungsi sebagai penghilang rasa nyeri dan penurun demam. Parasetamol dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati. Paracetamol dimetabolisme melalui 2 jalur, yaitu glukuronidasi (berikatan dengan glukoronat) dan sulfatasi (berikatan dengan sulfat). Bila jalur glukuronidasi dan sulfatasi jenuh, maka akan terjadi peningkatan jumlah NAPQI melalui jalur oksidasi oleh sitokrom P450. NAPQI akan cepat dieliminasi dengan dikonjugasi oleh glutathion dan akan diubah menjadi asam merkapturat yang kemudian diekskresikan melalui urin. Bila dosis parasetamol berlebih, maka jumlah glutathion pada sel hati akan habis, sehingga jumlah NAPQI yang tinggi akan berikatan dengan sel makromolekul dalam hati yang akan menyebabkan efek hepatotoksik (kerusakan hati).
Pada kondisi hati yang normal saja, penggunaan paracetamol berlebih dapat menyebabkan efek hepatotoksik. Lantas apakah pada penderita pasien hepatitis B, penggunaan paracetamol masih diperbolehkan? Jika sangat diperlukan dan tidak ada pilihan obat yang lain, maka pemberian paracetamol pada pasien hepatitis diperbolehkan, dengan catatan harus diperhatikan dosisnya. Dosis maksimum yang dianjurkan pada pasien dengan penyakit hati tidak lebih dari 2 gram (2000 mg atau empat tablet) dalam 24 jam. Maka, untuk tenaga kesehatan, perlu dipastikan bahwa pasien yang akan kita berikan paracetamol, tidak memiliki penyakit hepatitis B, atau penyakit hati lainnya. Dan untuk penderita hepatitis B, diharapkan menginfokan kepada petugas kesehatan, jika memiliki riwayat penyakit tersebut.
Referensi :
Lok,Anna."Patient education: Hepatitis B (Beyond the Basics)"
Diakses pada 20 Juli 2022. https://www.uptodate.com/contents/hepatitis-b-beyond-the-basics/print
Yoon,Eric. Babar,Aaroj. Pyrsopoulos,Nikolaos."Acetaminophen-Induced Hepatotoxicity: a Comprehensive Update"
Diakses pada 20 Juli 2022. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4913076/