Serba-Serbi Kanker Serviks


ARTIKEL
Senin, 14 November 2022
2829
Serba-Serbi Kanker Serviks

oleh: Fitriana Rahayu, A.Md.Keb.

Kanker serviks merupakan suatu penyakit keganasan pada perempuan yang menyerang bagian leher rahim. Menurut data WHO tahun 2018 menunjukkan kejadian penyakit kanker serviks di Indonesia sebanyak 136,2 per 100.000 penduduk. Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi virus HPV (Human Pappiloma Virus), terutama virus HPV sub tipe 16 dan 18. Penyebaran virus ini terutama melalui hubungan seksual. Saat seseorang terkena HPV, sistem kekebalan tubuh sebenarnya bisa mencegah virus agar tidak membahayakan. Sayangnya, pada sebagian orang lainnya, virus ini bertahan selama bertahun-tahun sehingga menyebabkan sejumlah sel serviks menjadi sel kanker.

Bahaya kanker serviks bagi perempuan
Bagi perempuan kanker serviks sangat berbahaya, bahkan bisa menyebabkan kematian terutama jika terlambat mendapatkan penanganan. Mortalitas atau angka kematiannya sendiri mencapai 50%. Hal ini karena kanker serviks dapat menyerap organ-organ yang penting di dalam tubuh. Di Indonesia, kanker serviks menempati urutan kedua setelah kanker payudara.

Apa saja gejala kanker serviks?
Kanker serviks stadium awal kemungkinan besar tidak ada gejala. Adapun gejala kanker serviks yang lebih dari stadium 1 ditandai oleh beberapa ciri, seperti: 
  • Keputihan dalam jumlah yang banyak dan berbau
  • Perdarahan vagina ketika melakukan hubungan seksual (contact bleeding)
  • Perdarahan tidak wajar dari vagina padahal sedang tidak haid
  • Siklus menstruasi tidak teratur dan cenderung menjadi lebih panjang 
  • Rasa sakit pada panggul (di perut bagian bawah), pinggang (punggung bawah) atau kaki.
  • Hilangnya nafsu makan sehingga menyebabkan berat badan menurun 
  • Badan terasam lemas dan mudah lelah
Ketika sudah merasa mengalami ciri-ciri tersebut, sebaiknya segera mengunjungi dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. 

Siapa yang lebih berisiko terkena kanker serviks?
  • Riwayat keturunan, seseorang menjadi dua kali lebih rentan jika dalam keluarga ada yang pernah menderita kanker serviks
  • Aktivitas seksual pada usia muda
  • Berhubungan seksual dengan banyak pasangan
  • Kebiasaan merokok
  • Sudah beberapa kali hamil dan melahirkan
  • Menggunakan pil KB  
  • Penyakit menular seksual, terutama infeksi klamidia
  • Gangguan imunitas, terutama orang dengan HIV/AIDS

Pencegahan kanker serviks
Kanker serviks adalah satu-satunya kanker yang dapat dicegah dan didiagnosis sejak dini, dengan melakukan pemeriksaan skrining melalui tes IVA (Inspeksi Visualisasi Asam Asetat) dan tes pap smear. Beberapa cara pencegahan kanker serviks yaitu:
  1.  Menerapkan polia hidup bersih dan sehat serta menghindari faktor risiko.
  2. Melakukan pemeriksaan skrining : Tes IVA (Inspeksi Visualisasi Asam asetat): metode pengusapan asam asetat atau asam cuka dengan kadar 3-5 persen pada leher rahim selama 30-60 detik. Akurasi pemeriksaan IVA ini sekitar 87%. Tes Pap Smear: metode ini dilakukan untuk mendeteksi sel abnormal yang terdapat di dalam rahim dan leher rahim (serviks). Pada metode ini perlu dikakukan pemeriksaan laboratorium patologi anatomi dengan proses antara 2-6 hari dengan akurasi pemeriksaan mencapai 93%.
  3. Pemeriksaan DNA HPV: tes ini bertujuan untuk mendeteksi ada atau tidaknya virus HPV yang berisiko menyebabkan penyakit menular seksual (seperti kutil kelamin) serta kanker serviks. Pemeriksaan tes DNA HPV dapat mendeteksi jenis virus HPV risiko tinggi (tipe 16 dan 18) yang pada umumnya ditemukan pada kanker serviks.Bila ditemukan hasil positif, maka terdapat sekitar 70% risiko terjadi kanker serviks. Sedangkan, bila ditemukan hasil negatif, tidak diperlukan pemeriksaan lebih lanjut. Tes HPV DNA juga lebih mudah dilakukan dan lebih tidak invasif dibandingkan tes pap smear ataupun tes IVA, sehingga dapat mengurangi risiko akibat prosedur yang dilakukan. Namun di Indonesia, metode skrining yang lebih umum digunakan adalah pap smear dan IVA karena tes DNA HPV belum tersedia secara luas.
  4. Pencegahan primer dengan vaksinasi HPV. Vaksinasi HPV saat ini sudah menjadi program pemerintah di beberapa daerah, termasuk DIY, yang merupakan vaksinasi wajib bagi anak perempuan di Sekolah Dasar kelas 5 dan 6. Sementara itu, Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) menyebut vaksin HPV bisa diberikan pada semua perempuan usia 10-55 tahun. Syaratnya, suntikan tidak diberikan saat perempuan sudah terinfeksi atau terkena kanker serviks. Sehingga wajib bagi seorang perempuan dewasa untuk melakukan pemeriksaan skrining sebelum menjalani vaksinasi HPV.

Pemeriksaan IVA, Pap smear, DNA HPV dan vaksinasi HPV sudah dapat dilayani di RSUD Sleman. Pemeriksaan ini didukung oleh Dokter Spesialis Obgin, Dokter Spesialis Patologi Anatomi, dan tenaga medis yang profesional. Mitra sehat dapat melakukan pemeriksaan skrining kanker serviks melalui klinik kebidanan dan kandungan, dan dapat melakukan vaksinasi di klinik vaksinasi RSUD Sleman.








Share